Kampar, KontenTV.com – Setiap rupiah donasi yang Anda berikan niscaya akan dicatat sebagai amal jariyah yang penuh berkah, sekaligus menjadi pertolongan nyata bagi keluarga Lindawati, ibu dari Adzan Agustian, pemuda berusia 22 tahun yang kini menderita cacat permanen akibat kecelakaan kerja yang menimpanya di lingkungan tempat ia bekerja, PT. Thaka Sukses Mandiri yang beroperasi di wilayah Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Isak tangis tak sanggup lagi dibendung oleh Lindawati (52 tahun) saat menceritakan penderitaan yang dialami putra kesayangannya itu. Suaranya bergetar hebat, matanya berkaca-kaca menatap kosong seolah kembali melihat betapa mengerikannya kondisi tubuh Adzan yang kini dipenuhi bekas luka bakar parah di sekujur badannya.
Jari-jari kedua kakinya tak lagi utuh, sebagian hilang dan rusak tak dapat diperbaiki kembali. Tangan kirinya berubah bentuk, kaku dan tak mampu digerakkan secara wajar, sementara bekas luka bakar yang mengeras masih membekas jelas di punggung, paha, hingga kedua lututnya menjadi bukti abadi dari musibah yang menimpanya hampir dua tahun silam.
Peristiwa menyedihkan itu terjadi tepat pada tanggal 5 September 2024, sebuah hari yang mengubah seluruh harapan dan masa depan pemuda yang masih berusia muda tersebut secara drastis. Sejak hari itu, kehidupan keluarga ini berubah total dari yang sederhana namun penuh harapan, menjadi penuh kesusahan, kepedihan, dan ketidakpastian nasib.
Linda mengaku saat musibah itu terjadi, ia tidak berada di lokasi kejadian maupun di samping putranya. Ia baru mendengar kabar buruk itu ketika diberitahu bahwa Adzan mengalami kecelakaan hebat dengan luka bakar serius dan harus segera dilarikan untuk mendapatkan perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Pekanbaru.
Tanpa menunda lagi, keluarga yang berasal dari Jambi itu segera berangkat menuju Riau demi menemani dan merawat Adzan yang sedang berjuang mempertahankan nyawanya di tengah rasa sakit yang luar biasa.
Selama kurang lebih satu bulan lamanya, Adzan menjalani perawatan dan pengobatan di Rumah Sakit Mesra, sebelum akhirnya kondisi kesehatannya dirujuk untuk penanganan lebih lanjut di Rumah Sakit Awal Bros Sudirman. Selama masa perawatan itu, ia harus menanggung rasa sakit luar biasa saat menjalani serangkaian tindakan medis, termasuk operasi besar hingga prosedur pencangkokan kulit untuk menutupi bagian tubuh yang rusak parah akibat luka bakar tingkat tinggi.
Saat menceritakan bagaimana musibah itu bermula, Adzan mengenang kembali dengan suara lemah namun jujur. Kecelakaan itu terjadi saat ia sedang melaksanakan tugas tambahan, yaitu bekerja lembur di area produksi kayu pelet milik perusahaan tempatnya bekerja.
Tanpa diduga, kakinya menginjak tumpukan serbuk kayu yang menumpuk di lantai kerja. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di bagian bawah tumpukan serbuk itu masih tersimpan bara api yang belum padam. “Begitu terinjak, langsung terbakar. Kami menyelamatkan diri sendiri karena badan sudah penuh api,” ungkap Adzan sambil menahan rasa sakit yang masih tersisa hingga kini.
Akibat peristiwa itu, api dengan cepat merambat ke seluruh tubuhnya, meninggalkan kerusakan parah pada kulit dan jaringan tubuhnya, serta menyebabkan gangguan fungsi gerak yang kini dideritanya seumur hidup.
Kini, meski luka fisiknya sudah menutup namun bekasnya tak akan hilang dan keterbatasan fisiknya tak bisa kembali sempurna. Tangan kirinya tak dapat digerakkan secara normal, sementara rasa nyeri tajam sering kali masih menyerang bagian kakinya, membuatnya sulit berdiri maupun berjalan lama.
Namun penderitaan itu belum berakhir; persoalan baru muncul ketika ia dan keluarganya berusaha mengurus hak klaim jaminan kecelakaan kerja yang seharusnya menjadi hak mutlaknya sebagai pekerja yang terluka saat menjalankan tugas perusahaan.
Adzan mengaku, saat proses pengurusan klaim tersebut, ia justru diminta oleh pihak terkait untuk mengubah keterangan kejadian membuat kronologi yang berbeda dari kenyataan sebenarnya.
Ia disuruh menuliskan bahwa kecelakaan itu terjadi di rumah, bukan di lingkungan tempat bekerja dan bukan saat sedang melaksanakan tugas pekerjaan. Tertekan dan takut kehilangan mata pencaharian satu-satunya yang ia miliki, saat itu ia tidak berdaya untuk menolak.
“Saya terpaksa mengikuti perintah. Kronologinya dibuat seperti apa, kami tinggal menyalin,” ujarnya dengan nada pasrah. Selama hampir dua tahun lamanya, ia memilih untuk diam dan menahan semuanya sendirian, menyimpan rasa takut akan kehilangan pekerjaan yang menopang hidupnya dan keluarganya.
Namun kini, setelah menyadari bahwa haknya tidak kunjung dipenuhi dan kondisinya semakin sulit untuk bekerja, Adzan bersama keluarganya akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara dan memperjuangkan keadilan yang seharusnya ia dapatkan. Ia tak lagi takut. “Saya pasrah kalau memang harus dipecat. Tapi saya menuntut hak saya sebagai pekerja,” tegasnya dengan tekad yang mulai tumbuh kembali.
Sementara itu, ibunda tercinta, Lindawati, yang tak henti-hentinya mendampingi dan merawatnya dengan kasih sayang, merasa sangat terbebani karena keterbatasan ekonomi keluarganya.
“Kami orang miskin, tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Kami berharap ada yang mau membantu agar anak kami mendapatkan hak-haknya dan meluruskan kronologi kejadian sebenarnya,” ucapnya dengan suara bergetar penuh harap kepada para awak media.
Keluarga ini kini membutuhkan uluran tangan kita bantuan berupa donasi yang tulus untuk meringankan beban biaya pengobatan lanjutan, pemulihan kesehatan, serta kebutuhan hidup sehari-hari, di tengah perjuangan mereka menuntut keadilan dan hak yang seharusnya diterima.
Setiap sumbangan yang diberikan, sekecil apa pun nilainya, akan sangat berarti bagi masa depan Adzan dan keluarganya, menjadi cahaya harapan di tengah kegelapan yang sedang mereka hadapi.
Semoga segala kebaikan dan bantuan yang Anda berikan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keberkahan yang berlipat ganda serta menjadi ladang pahala yang tak terputus.
NB Donasi: Adzan Agustian Bank BRI 211501024304500
HP 0857 8910 6269












Komentar